Banjir Bandang Berulang: Infrastruktur Indonesia di Ujung Tanduk Kesiapan
Fenomena banjir bandang kembali menjadi berita utama, menyisakan duka, kerugian, dan pertanyaan besar yang terus menggantung. Di tengah deru air bah yang merenggut harta benda dan kadang nyawa, satu isu krusial terus mencuat dan disorot tajam: ketidaksiapan prasarana infrastruktur kita dalam menghadapi amukan alam.
Bukan lagi sekadar faktor curah hujan ekstrem yang kerap dijadikan kambing hitam. Masalahnya lebih dalam, mengakar pada sistem drainase yang tidak memadai, tanggul sungai yang rapuh, sedimentasi parah akibat deforestasi, hingga tata ruang yang abai terhadap mitigasi bencana. Infrastruktur yang seharusnya menjadi benteng pelindung, justru seringkali menjadi faktor memperparah dampak banjir. Jembatan ambruk, jalan terputus, dan fasilitas publik lumpuh adalah bukti nyata rapuhnya fondasi yang kita bangun.
Kerugian ekonomi tak terhitung, ribuan warga terpaksa mengungsi, dan bahkan nyawa melayang. Ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari perencanaan dan implementasi infrastruktur yang belum optimal. Setiap kali banjir bandang datang, ia seolah memberikan "peringatan" akan pentingnya investasi jangka panjang pada infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan, bukan sekadar perbaikan tambal sulam.
Maka, sudah saatnya pemerintah, bersama seluruh elemen masyarakat, melakukan evaluasi menyeluruh. Prioritas harus diberikan pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang berorientasi mitigasi bencana: normalisasi sungai, pembangunan waduk penampung, sistem drainase cerdas, serta penegakan tata ruang yang ketat dan berwawasan lingkungan. Bukan lagi sekadar respons pasca-bencana, melainkan strategi pencegahan komprehensif yang menempatkan kesiapsiagaan sebagai pilar utama. Hanya dengan begitu, kita bisa berharap banjir bandang tidak lagi menjadi siklus tragedi yang berulang, melainkan tantangan yang dapat kita hadapi dengan lebih siap dan minim dampak.
