Orang tani Terjebak Pinjaman Ketergantungan pada Tengkulak Sedang Tinggi

Panen untuk Utang: Jerat Tengkulak Cekik Petani Indonesia

Petani, pahlawan pangan yang menghidupi negeri, seringkali menghadapi kenyataan pahit: jeratan utang dari tengkulak yang kian mencekik. Fenomena ini bukan hanya sekadar pinjaman, melainkan sebuah lingkaran setan yang menciptakan ketergantungan akut, merenggut kesejahteraan, dan bahkan martabat mereka.

Mengapa Petani Terjebak?

Minimnya akses modal formal dari perbankan atau koperasi, ditambah kebutuhan mendesak untuk biaya operasional (pupuk, bibit, sewa lahan) atau bahkan kebutuhan hidup sehari-hari, sering mendorong petani mencari "jalan pintas." Tengkulak hadir sebagai "penolong" dengan pinjaman cepat dan tanpa jaminan rumit. Namun, di balik kemudahan itu tersimpan bunga tinggi dan kewajiban menjual hasil panen dengan harga jauh di bawah pasar, bahkan sebelum panen tiba.

Siklus Ketergantungan yang Mematikan

Akibatnya, pendapatan petani tidak pernah cukup untuk melunasi utang pokok, apalagi mendapatkan keuntungan layak. Mereka terpaksa meminjam lagi untuk musim tanam berikutnya, menciptakan siklus ketergantungan abadi. Daya tawar petani hilang, mereka tak punya pilihan selain menerima harga dan syarat yang ditentukan tengkulak. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga merampas hak petani untuk menentukan nasib hasil jerih payahnya sendiri.

Waktunya Memutus Rantai Ini

Fenomena ini adalah alarm keras bagi kita. Diperlukan intervensi serius melalui akses permodalan yang mudah dan murah, pendampingan, serta penguatan koperasi petani. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi agar petani bisa kembali berdaulat atas tanah dan hasil jerih payahnya, tidak lagi menjadi budak di tanah sendiri. Hanya dengan begitu, kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional bisa terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *