Terjebak dalam Jerat: Petani dan Lingkaran Utang Tengkulak yang Melilit
Di tengah upaya meningkatkan ketahanan pangan, ironisnya, ribuan petani di Indonesia kini kian terjerat dalam lingkaran setan utang ketergantungan pada tengkulak. Fenomena ini bukan lagi sekadar kasus, melainkan masalah sistemik yang mengancam kesejahteraan mereka dan keberlanjutan sektor pertanian.
Keterbatasan akses terhadap modal formal seperti bank menjadi pemicu utama. Petani seringkali membutuhkan dana cepat untuk bibit, pupuk, atau bahkan kebutuhan hidup sehari-hari. Tengkulak hadir sebagai "penolong" dengan tawaran pinjaman mudah dan tanpa birokrasi berbelit, mengisi kekosongan yang gagal dijangkau lembaga keuangan resmi.
Namun, "pertolongan" itu berbayar mahal. Bunga pinjaman yang mencekik dan kewajiban menjual hasil panen dengan harga di bawah pasar yang ditentukan tengkulak adalah dua mata pisau yang melilit. Petani kehilangan daya tawar, keuntungan menipis, dan tak jarang sisa utang justru membengkak, menciptakan siklus ketergantungan yang tak berujung dari musim ke musim. Mereka terjebak, tak punya pilihan selain terus bergantung pada tangan yang sama yang menjerat mereka.
Untuk memutus jerat ini, diperlukan langkah konkret. Pemerintah harus memperkuat akses petani terhadap modal formal dengan bunga rendah, memperluas jangkauan koperasi petani yang sehat, serta memberikan edukasi literasi keuangan. Selain itu, upaya stabilisasi harga komoditas dan fasilitasi akses langsung petani ke pasar yang lebih luas mutlak dilakukan. Hanya dengan begitu, petani bisa kembali berdaulat atas lahan dan hasil jerih payahnya, bukan terjebak dalam bayang-bayang tengkulak yang tak kunjung usai.
