Dahaga Pinggiran: Krisis Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang
Musim kemarau panjang selalu menjadi momok, terutama bagi masyarakat di pelosok dan pinggiran. Saat tanah retak dan sumur mengering, kebutuhan paling dasar – air bersih – menjadi barang langka, bahkan kemewahan. Ini adalah nestapa yang berulang, menimpa jutaan jiwa yang terpinggirkan dari akses fasilitas perkotaan.
Sumur-sumur yang menjadi andalan kini tak lagi mengeluarkan air. Sungai-sungai menyusut drastis. Akibatnya, warga harus menempuh jarak jauh, mengantre berjam-jam, atau bahkan terpaksa menggunakan air yang kualitasnya diragukan untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas mandi, mencuci, dan memasak, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan. Penyakit diare dan kulit menjadi bayang-bayang yang terus menghantui, terutama anak-anak.
Keterbatasan infrastruktur, letak geografis yang sulit dijangkau, serta minimnya investasi dalam sistem pengelolaan air yang berkelanjutan, memperparah krisis ini. Perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau lebih ekstrem dan berkepanjangan semakin memperburuk keadaan, membuat solusi jangka pendek terasa tidak memadai.
Krisis air bersih di daerah pinggiran bukan sekadar masalah musiman, melainkan panggilan serius untuk tindakan kolektif. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat harus bersinergi mencari solusi inovatif: mulai dari pembangunan infrastruktur yang adaptif, teknologi penjernihan air sederhana, hingga edukasi konservasi air. Setiap tetes air adalah kehidupan. Memastikan akses air bersih bagi semua adalah investasi dalam kesehatan, martabat, dan masa depan bangsa.
