Revitalisasi Kota: Kemajuan Elit, Penggusuran Rakyat Kecil
Program pemudaan atau revitalisasi perkotaan kerap digadang sebagai motor kemajuan dan estetika sebuah kota. Dengan janji mengubah kawasan kumuh menjadi area modern, menarik investasi, dan meningkatkan fasilitas publik, proyek-proyek ini memang tampak menjanjikan. Namun, di balik gemerlap pembangunan, tersembunyi sebuah ancaman serius yang seringkali luput dari perhatian: penggusuran dan marginalisasi penduduk miskin kota.
Ketika sebuah area "dipoles", nilai properti di sekitarnya cenderung melonjak drastis. Hal ini memicu gentrifikasi, di mana biaya sewa dan harga tanah menjadi tidak terjangkau bagi penduduk asli berpenghasilan rendah. Mereka yang telah lama tinggal di sana, seringkali secara turun-temurun di pemukiman informal atau rumah sewa murah, terpaksa angkat kaki. Mereka dipaksa mencari tempat tinggal di pinggiran kota yang semakin jauh, kehilangan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan layanan dasar yang sebelumnya mudah dijangkau.
Akibatnya, bukan hanya tempat tinggal fisik yang hilang, tetapi juga ikatan komunitas yang telah terbangun puluhan tahun runtuh. Kota memang terlihat lebih modern dan "cantik" di permukaan, tetapi di bawahnya, kesenjangan sosial kian melebar. Program pemudaan yang seharusnya membawa kesejahteraan bagi semua, justru menciptakan "kota dua wajah": modern untuk kaum elit dan kaum menengah ke atas, namun keras dan tidak ramah bagi rakyat kecil.
Maka, setiap program revitalisasi harus mempertimbangkan dampak sosialnya secara mendalam. Perencanaan yang adil dan inklusif, dengan penyediaan hunian terjangkau serta pelibatan aktif masyarakat lokal, adalah kunci. Kota yang maju sejati adalah kota yang mampu merangkul semua warganya, bukan mengusir sebagian demi kemewahan segelintir.
