Lonceng Bahaya Kualitas Pendidikan: Masyarakat Sipil Bersuara
Organisasi masyarakat sipil (OMS) dan berbagai badan swadaya publik di Indonesia kompak menyuarakan keprihatinan mendalam atas dugaan penurunan kualitas pendidikan. Observasi mereka menunjukkan adanya pergeseran fokus dari esensi pembelajaran menuju formalitas dan angka semata, yang berpotensi menggerus fondasi pendidikan nasional.
Sorotan Utama:
Masyarakat sipil menyoroti beberapa faktor utama yang berkontribusi pada kemerosotan ini, antara lain:
- Relevansi Kurikulum: Kurikulum yang dinilai kurang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman, sehingga siswa tidak dibekali keterampilan yang memadai.
- Kompetensi Guru: Kesenjangan kualitas dan distribusi guru yang tidak merata, serta kurangnya program pengembangan profesional berkelanjutan yang efektif.
- Fasilitas dan Akses: Disparitas fasilitas pendidikan yang signifikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, termasuk keterbatasan akses terhadap teknologi digital.
- Evaluasi yang Kurang Holistik: Sistem evaluasi yang terlalu menekankan pada hasil ujian standar, alih-alih mengukur kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter.
Dampak dan Peringatan:
Penurunan kualitas ini, menurut badan swadaya, berdampak serius pada kesiapan generasi mendatang menghadapi tantangan global, meningkatkan kesenjangan sosial, dan menghambat potensi inovasi bangsa. Mereka memperingatkan bahwa tanpa intervensi serius, Indonesia akan kesulitan mencetak sumber daya manusia unggul yang kompetitif.
Ajakan Bersama:
Peringatan dari masyarakat sipil ini harus menjadi momentum bagi semua pihak – pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat luas – untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan reformasi kebijakan yang berani. Sinergi dan kolaborasi adalah kunci untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan berkualitas yang sesungguhnya, bukan hanya sebatas formalitas.
