Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Ironi Sosialisasi: Ketika Kekerasan Berulang Jadi ‘Ritual’

Lagi-lagi, kabar pilu datang dari institusi yang seharusnya mencetak generasi unggul. Berita kekerasan dalam kegiatan sosialisasi atau orientasi kembali mencuat ke permukaan, menodai tujuan mulia pembentukan karakter dan mental positif. Di sekolah, kampus, atau lembaga pelatihan, fenomena ini seolah menjadi lingkaran setan yang tak kunjung putus.

Bukan sekadar perundungan biasa, kekerasan ini seringkali terstruktur dan berdalih ‘pendisiplinan’ atau ‘penempaan mental’. Bentuknya beragam, dari kekerasan fisik yang meninggalkan luka, hingga tekanan psikologis yang mengikis kepercayaan diri korban. Pelaku, yang seringkali adalah senior atau bahkan oknum pembimbing, merasa memiliki legitimasi atas nama ‘tradisi’ atau ‘loyalitas’. Namun, yang tertinggal adalah trauma mendalam, cedera fisik, bahkan tak jarang berujung pada kematian dan proses hukum.

Mengapa ini terus berulang? Akar masalahnya kompleks. Longgarnya pengawasan, budaya bungkam di kalangan peserta dan alumni, serta minimnya sanksi tegas bagi pelaku sering menjadi pemicu. Pemahaman yang keliru tentang hierarki dan ‘senioritas’ juga turut memperparah keadaan, menciptakan lingkungan di mana kekerasan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari proses ‘masuk’ atau ‘menjadi bagian’.

Sudah saatnya kita memutus rantai kekerasan ini. Badan-badan sosialisasi harus berani mengevaluasi total program mereka, menempatkan keselamatan dan psikis peserta di atas segalanya. Penegakan aturan yang tegas, pendidikan anti-kekerasan yang masif, serta perubahan paradigma bahwa karakter unggul dibangun dari rasa hormat dan empati, bukan intimidasi dan rasa takut. Hanya dengan komitmen kolektif, tujuan sejati sosialisasi — mencetak individu berintegritas — dapat terwujud tanpa noda kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *