Pekerja Bebas Menuntut Perlindungan serta Agunan Sosial

Merdeka Tapi Rentan: Suara Pekerja Bebas Menuntut Agunan Sosial

Ekonomi gig semakin merajalela, menawarkan fleksibilitas dan otonomi yang menggiurkan. Jutaan orang kini memilih jalur pekerja bebas, dari desainer grafis, penulis, kurir, hingga pengembang perangkat lunak. Namun, di balik kebebasan yang dijanjikan, tersimpan realitas pahit: ketiadaan perlindungan dan agunan sosial yang layak.

Berbeda dengan pekerja formal yang menikmati jaminan kesehatan, pensiun, cuti berbayar, dan tunjangan lainnya, pekerja bebas seringkali harus berjuang sendiri. Mereka rentan terhadap ketidakpastian pendapatan, tidak memiliki jaring pengaman saat sakit atau mengalami kecelakaan kerja, dan masa tua mereka tidak terjamin. Status "independen" seringkali berarti "tidak terlindungi" secara hukum dan sosial.

Melihat kondisi ini, suara-suara pekerja bebas mulai lantang menuntut perubahan. Mereka bukan hanya menginginkan pengakuan atas kontribusi mereka terhadap ekonomi, tetapi juga akses yang setara terhadap agunan sosial. Tuntutan ini meliputi skema asuransi kesehatan yang terjangkau, jaminan hari tua, perlindungan dari kecelakaan kerja, bahkan kemungkinan tunjangan pengangguran saat pekerjaan sedang lesu.

Pemerintah dan platform penyedia kerja bebas memiliki peran krusial dalam menciptakan ekosistem yang lebih adil. Mendesain kebijakan yang inklusif dan skema agunan sosial yang adaptif bagi model kerja baru ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Tujuannya adalah memastikan bahwa kebebasan dalam bekerja tidak harus dibayar mahal dengan ketidakpastian masa depan. Pekerja bebas berhak atas martabat dan perlindungan yang sama demi keberlanjutan dan keadilan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *