Gelombang Banjir Tahunan: Ancaman Kronis Perkotaan
Setiap musim hujan tiba, pemandangan genangan air dan banjir seolah menjadi ‘tradisi’ pahit bagi banyak kota besar. Namun, fenomena banjir tahunan ini bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan telah bertransformasi menjadi permasalahan kronis yang semakin parah, mengancam keberlanjutan kehidupan urban.
Penyebabnya kompleks. Laju urbanisasi yang masif mengubah lahan hijau menjadi beton, mengurangi daerah resapan air. Sistem drainase kota yang seringkali sudah usang dan tak memadai, diperparah oleh tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, menjadi ‘pintu gerbang’ bagi bencana. Perubahan iklim global juga memainkan peran, memicu intensitas curah hujan ekstrem yang sulit ditampung infrastruktur yang ada.
Dampak yang ditimbulkan sangat merugikan. Kerugian ekonomi akibat terhentinya aktivitas bisnis dan kerusakan infrastruktur mencapai miliaran rupiah setiap tahun. Aspek sosial pun terganggu; kesehatan masyarakat terancam oleh penyakit pasca-banjir, mobilitas lumpuh, hingga tekanan psikologis bagi warga yang rumahnya berulang kali terendam.
Menghadapi ancaman ini, dibutuhkan langkah konkret dan terintegrasi. Perencanaan tata ruang kota yang berwawasan lingkungan, revitalisasi dan pembangunan sistem drainase yang modern, pengelolaan sampah yang efektif, serta edukasi publik untuk tidak membuang sampah sembarangan adalah kunci. Penerapan konsep kota hijau dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan penggunaan material permeabel juga krusial untuk meningkatkan daya serap tanah.
Banjir tahunan di perkotaan bukan lagi takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan dan tindakan kita. Solusinya memerlukan komitmen kuat dari pemerintah, kolaborasi aktif dari sektor swasta, dan partisipasi sadar dari seluruh masyarakat. Hanya dengan sinergi ini, kota-kota kita bisa bernafas lega, bebas dari jerat genangan yang tak berkesudahan.


