Api Merampas, Hidup Terhenti: Jeritan Pedagang Pasar Konvensional
Kebakaran pasar konvensional bukan sekadar insiden biasa. Setiap kali si jago merah mengamuk, ia tak hanya melalap bangunan dan dagangan, tetapi juga merenggut harapan dan masa depan ribuan keluarga. Tragedi ini adalah pukulan telak bagi ekonomi kerakyatan, menghancurkan mata pencarian yang telah dibangun bertahun-tahun.
Bagi pedagang, pasar adalah rumah kedua, gudang modal, dan sumber penghidupan utama. Ketika api membumihanguskan lapak mereka, yang tersisa hanyalah puing dan abu. Modal usaha bertahun-tahun lenyap dalam sekejap, tak jarang tanpa sisa asuransi atau jaminan. Dampak terbesarnya adalah hilangnya mata pencarian. Ratusan hingga ribuan kepala keluarga kehilangan pendapatan, membuat mereka terombang-ambing dalam ketidakpastian ekonomi. Anak-anak terancam putus sekolah, kebutuhan pokok sulit terpenuhi, dan beban utang kian menumpuk. Ini adalah pukulan telak yang seringkali butuh waktu sangat lama untuk pulih.
Pencegahan kebakaran melalui edukasi, pembenahan instalasi listrik yang aman, dan penataan kios yang tertib menjadi kunci. Selain itu, skema bantuan cepat dan berkelanjutan dari pemerintah serta masyarakat sangat krusial untuk membantu pedagang bangkit kembali.
Kebakaran pasar bukan sekadar musibah materiil, melainkan tragedi kemanusiaan yang merenggut hak dasar untuk hidup layak. Mata pencarian yang hangus berarti harapan yang padam, dan itu adalah kerugian bagi kita semua.
