Penduduk Batal Peroleh Kesamarataan dalam Bentrokan Tanah

Tanah Tercabik, Hak Terampas: Mimpi Kesetaraan yang Pupus di Pusaran Konflik Agraria

Di berbagai belahan negeri, konflik agraria terus menjadi momok yang tak kunjung usai. Masyarakat lokal, seringkali yang paling rentan, kerap menjadi korban utama. Harapan mereka untuk memperoleh kesetaraan dan keadilan dalam kepemilikan serta pemanfaatan tanah justru semakin pupus di tengah bentrokan kepentingan yang tak seimbang.

Bentrokan tanah seringkali mempertemukan kepentingan korporasi besar atau proyek pembangunan infrastruktur dengan hak-hak tradisional atau kepemilikan turun-temurun masyarakat. Kelemahan regulasi, tumpang tindihnya kebijakan, serta minimnya perlindungan hukum yang memadai bagi warga, seringkali menempatkan mereka pada posisi yang sangat tidak menguntungkan. Atas nama pembangunan, akses warga terhadap sumber daya esensial mereka kerap terampas secara sepihak.

Akibatnya, alih-alih mencapai kesetaraan, warga justru terpinggirkan, kehilangan mata pencarian, bahkan terpaksa mengungsi dari tanah leluhur mereka. Kesenjangan kekuatan dan akses terhadap keadilan semakin memperdalam luka ketidakadilan, menjadikan mereka sekadar angka dalam statistik penggusuran atau korban kekerasan. Mimpi kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya agraria hanya menjadi ilusi.

Situasi ini menegaskan bahwa tanpa reformasi agraria yang komprehensif dan penegakan hukum yang berpihak pada rakyat, kesetaraan dalam konflik tanah akan tetap menjadi janji kosong. Masyarakat terus berjuang, namun seringkali tanpa hasil, di tengah bentrokan tanah yang tak pernah adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *