Jaringan Terputus, Asa Tersambung: Potret Kesenjangan Digital di Kepulauan
Keindahan alam kepulauan seringkali menyimpan ironi. Di balik panorama memesona, ribuan penduduknya masih terisolasi dari arus informasi dan internet. Ini bukan hanya soal gaya hidup, melainkan hambatan fundamental bagi kemajuan dan kesejahteraan mereka.
Akses ke pulau-pulau terpencil yang sulit, biaya infrastruktur yang tinggi, serta populasi yang tersebar membuat penyedia layanan enggan berinvestasi. Akibatnya, informasi dasar seperti harga pasar komoditas, cuaca, atau bahkan berita nasional menjadi barang mewah. Anak-anak kesulitan mengakses materi pelajaran daring, petani dan nelayan tak bisa memasarkan produk secara luas, serta warga sulit mengakses layanan publik atau kesehatan yang kini banyak beralih ke platform digital.
Kesenjangan digital ini menciptakan jurang pemisah yang dalam. Potensi generasi muda terhambat, inovasi sulit tumbuh, dan rasa keterasingan kian pekat. Mewujudkan pemerataan akses internet bukan sekadar proyek teknis, melainkan investasi krusial dalam pembangunan sumber daya manusia dan keadilan sosial. Hanya dengan jaringan yang tersambung, pulau-pulau sunyi ini dapat mengeluarkan potensi penuhnya dan bergabung dalam percakapan global, memastikan setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki hak setara untuk informasi dan kesempatan.


