Kejadian Burnout Berjangkit di Golongan Pekerja Belia

Ketika Ambisi Membakar Diri: Wabah Burnout Berjangkit di Pekerja Belia

Dulu, semangat membara dan optimisme tinggi adalah ciri khas pekerja belia saat memasuki dunia kerja. Namun kini, ada fenomena yang kian mengkhawatirkan: burnout, terutama di kalangan generasi muda (usia 20-an hingga awal 30-an). Ini bukan lagi sekadar kelelahan biasa, melainkan seolah wabah yang berjangkit, mengancam kesehatan mental dan produktivitas mereka.

Mengapa Mereka Rentan?
Beberapa faktor membuat pekerja belia lebih rentan terhadap burnout:

  1. Tuntutan & Ekspektasi Tinggi: Baik dari perusahaan maupun diri sendiri, ada tekanan untuk selalu berprestasi, berinovasi, dan bekerja ekstra.
  2. Budaya "Always-On": Batasan antara kerja dan hidup pribadi kian tipis berkat teknologi. Email dan pesan kerja bisa masuk kapan saja, menciptakan perasaan harus selalu responsif.
  3. Tekanan Sosial & Ekonomi: Perbandingan di media sosial, biaya hidup yang tinggi, serta keinginan untuk segera mencapai kemapanan finansial menambah beban psikologis.
  4. Kurangnya Batasan Diri: Generasi ini sering kesulitan mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan waktu kerja, takut dianggap tidak kompeten atau tidak berdedikasi.
  5. Pencarian Makna: Keinginan untuk pekerjaan yang bermakna kadang berbenturan dengan realitas pekerjaan yang monoton atau lingkungan toksik, memicu frustrasi.

Bagaimana Burnout "Menjangkit"?
Burnout tidak menular seperti virus, namun ia berjangkit melalui:

  • Normalisasi Kerja Berlebihan: Melihat rekan kerja lain lembur terus-menerus bisa membuat seseorang merasa harus melakukan hal yang sama.
  • Lingkungan Kerja yang Tidak Mendukung: Kurangnya dukungan dari atasan atau rekan kerja saat menghadapi tekanan.
  • Tekanan Kolektif: Budaya perusahaan yang mengagungkan "sibuk" sebagai tanda produktivitas, tanpa memberi ruang untuk istirahat atau keseimbangan.

Dampak yang Mengerikan
Dampak burnout tidak main-main. Selain penurunan produktivitas dan kualitas kerja, ia bisa memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, masalah fisik (insomnia, sakit kepala), hingga keputusan untuk resign karena merasa tidak sanggup lagi. Ini adalah kerugian besar bagi individu maupun perusahaan.

Saatnya Bertindak
Mencegah dan mengatasi burnout adalah tanggung jawab bersama.

  • Bagi Individu: Belajar menetapkan batasan, prioritaskan istirahat dan self-care, cari hobi di luar pekerjaan, dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika merasa tertekan.
  • Bagi Perusahaan: Promosikan budaya kerja yang sehat, berikan dukungan kesehatan mental, pastikan beban kerja realistis, dan hargai istirahat karyawan.

Burnout pada pekerja belia adalah alarm keras. Ini saatnya kita lebih peduli, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, dan menyadari bahwa kesehatan mental adalah aset tak ternilai. Bekerja keras itu baik, tapi membakar diri itu fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *