Pesta Pernikahan: Glamor vs. Irit, Angkatan Belia Terbagi dalam Pilihan
Angkatan belia masa kini menghadapi dilema unik menjelang pernikahan. Di satu sisi, ada godaan pesta glamor bak negeri dongeng. Di sisi lain, muncul kesadaran akan pentingnya hidup irit demi masa depan. Pilihan ini tak hanya soal selera, tapi juga merefleksikan prioritas dan pandangan hidup yang berbeda.
Fenomena pesta pernikahan glamor, lengkap dengan dekorasi mewah, gaun desainer, dan venue eksklusif, tak lepas dari pengaruh media sosial. Visualisasi ‘wedding goals’ di platform seperti Instagram dan TikTok memicu keinginan banyak pasangan muda untuk mewujudkan impian serupa. Alasan di baliknya seringkali adalah keinginan untuk merayakan momen sekali seumur hidup secara ‘sempurna’, status sosial, atau sekadar memenuhi ekspektasi keluarga dan teman. Namun, tak jarang keputusan ini berujung pada tumpukan utang atau terkurasnya tabungan awal yang seharusnya bisa dialokasikan untuk rumah, pendidikan, atau investasi.
Di sisi berlawanan, semakin banyak angkatan belia yang memilih jalur pernikahan yang lebih irit dan praktis. Fokus mereka beralih dari kemegahan sesaat menuju fondasi finansial yang kuat untuk masa depan. Uang yang seharusnya dihabiskan untuk pesta mewah dialihkan untuk membeli rumah pertama, memulai investasi, melunasi utang pendidikan, atau membangun dana darurat. Mereka cenderung memprioritaskan esensi pernikahan – ikatan cinta dan komitmen – di atas kemewahan seremonial. Pernikahan intim di KUA, pesta sederhana di rumah, atau potluck menjadi pilihan populer yang minim stres finansial.
Pada akhirnya, tidak ada jawaban tunggal yang benar atau salah. Pilihan antara pesta pernikahan glamor atau hidup irit adalah cerminan dari prioritas, nilai, dan tujuan finansial masing-masing pasangan. Yang terpenting adalah komunikasi terbuka antar pasangan, kesadaran akan kondisi keuangan, dan keberanian untuk membuat keputusan yang paling sesuai dengan kebahagiaan jangka panjang mereka, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.
