Anak Jalanan: Wajah Buram Kesejahteraan, Negara di Mana?
Pemandangan anak-anak dengan tangan menengadah, mengamen, atau sekadar meringkuk di sudut kota, kian akrab di mata kita. Jumlah mereka tak surut, bahkan cenderung bertambah, menjadi potret buram yang mencoreng citra kesejahteraan sebuah bangsa. Mereka adalah korban kemiskinan struktural, disfungsi keluarga, hingga minimnya akses terhadap hak-hak dasar. Di tengah fenomena yang memilukan ini, pertanyaan besar menggantung: di mana peran dan tanggung jawab negara?
Kehidupan di jalanan adalah neraka kecil bagi anak-anak. Mereka rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, malnutrisi, putus sekolah, dan berbagai penyakit. Hak mereka untuk tumbuh kembang secara layak, bermain, dan mendapatkan pendidikan, terenggut paksa oleh kerasnya realita. Jalanan bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan juga "rumah" yang penuh ancaman dan tanpa masa depan yang jelas.
Secara konstitusional, negara memiliki mandat untuk melindungi setiap warga negaranya, terutama anak-anak. Kehadiran negara seharusnya tidak hanya sebatas penertiban atau razia sesaat, melainkan pada akar masalah: pencegahan dan rehabilitasi yang komprehensif. Ini berarti memastikan jaring pengaman sosial yang kuat, akses pendidikan gratis dan berkualitas, layanan kesehatan yang memadai, serta program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga rentan.
Data yang akurat, kolaborasi intensif dengan masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah, serta kebijakan yang berpihak pada anak jalanan adalah kunci. Anak-anak ini bukan sekadar masalah sosial yang harus disingkirkan, melainkan individu yang membutuhkan uluran tangan, perlindungan, dan kesempatan kedua.
Fenomena anak jalanan adalah cerminan kegagalan kolektif kita, dan yang paling utama, kegagalan negara dalam memenuhi janji kesejahteraan. Sudah saatnya negara tidak lagi bersembunyi di balik alasan klasik, melainkan hadir dengan solusi nyata, berkelanjutan, dan manusiawi. Karena masa depan bangsa ini, sesungguhnya, ada di tangan setiap anak, termasuk mereka yang kini terpaksa hidup di jalanan.
