Alam Mengamuk: Perubahan Kondisi dan Gelombang Tragedi
Bencana alam bukan lagi murni fenomena alamiah, melainkan semakin sering diperparah oleh perubahan kondisi lingkungan yang masif. Intervensi manusia dan perubahan iklim global telah menciptakan pola baru yang mengancam berbagai wilayah di dunia, mengubah frekuensi dan intensitas tragedi yang terjadi.
Peningkatan suhu global adalah pemicu utama. Energi ekstra di atmosfer dan lautan memicu kejadian cuaca ekstrem: intensitas badai yang lebih kuat, curah hujan ekstrem yang tak terduga, hingga gelombang panas berkepanjangan.
Di wilayah pesisir, kenaikan permukaan air laut memperparah banjir rob dan erosi, mengancam infrastruktur dan pemukiman. Sementara di daratan, hujan lebat tak terduga memicu banjir bandang dan tanah longsor, terutama di area dengan deforestasi parah atau tata guna lahan yang buruk. Area kering dan hutan menghadapi ancaman kebakaran hutan yang lebih sering dan luas, akibat kekeringan panjang dan suhu ekstrem.
Urbanisasi yang tidak terencana, penggundulan hutan, dan degradasi lahan semakin memperburuk kerentanan. Ekosistem yang rusak kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dampak bencana, seperti hutan bakau yang hilang sebagai penahan ombak atau lahan basah yang tak lagi menyerap kelebihan air.
Jelas bahwa tragedi alam saat ini adalah cerminan dari kondisi bumi yang berubah. Dampak yang dirasakan beragam di tiap area, namun benang merahnya sama: urgensi untuk bertindak. Mitigasi perubahan iklim dan adaptasi adalah kunci untuk mengurangi risiko dan melindungi kehidupan dari amukan alam yang kian tak terduga.