Jebakan Verifikasi Ganda: Ketika Niat Baik Menghambat Bansos
Penyaluran bantuan sosial (bansos) adalah upaya mulia untuk menopang kehidupan masyarakat yang rentan. Namun, seringkali niat baik untuk memastikan akurasi dan mencegah penyelewengan justru menjadi bumerang. Fenomena "informasi keselamatan dobel" — yaitu permintaan atau verifikasi data yang berulang dan redundan — telah menjadi salah satu permasalahan utama dalam distribusi bansos.
Praktik ini, yang bertujuan mulia untuk ‘keamanan data’ atau ‘verifikasi berlapis’, pada kenyataannya menciptakan birokrasi yang rumit, memperlambat proses distribusi, dan bahkan menyebabkan penundaan ekstrem. Misalnya, ketika data penerima sudah diverifikasi oleh satu lembaga, namun lembaga lain atau tingkatan di bawahnya masih meminta verifikasi ulang dengan dokumen yang sama atau serupa. Ini bukan hanya membuang waktu dan sumber daya, tetapi juga membingungkan serta membebani penerima manfaat yang harus berulang kali mengurus atau melengkapi persyaratan.
Penyebab utamanya seringkali adalah kurangnya integrasi sistem data antarlembaga, atau ketakutan berlebihan terhadap potensi kesalahan, sehingga setiap pihak merasa perlu melakukan verifikasi dari awal. Alih-alih memperkuat keamanan, tumpukan informasi dan proses verifikasi yang sama ini justru membebani petugas lapangan dan membingungkan penerima manfaat. Akibatnya, bansos yang seharusnya segera sampai justru terhambat oleh ‘keamanan’ yang berlebihan, bahkan berisiko tidak terdistribusi tepat waktu kepada mereka yang paling membutuhkan.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang lebih cerdas. Integrasi sistem data yang komprehensif, standarisasi prosedur verifikasi, dan peningkatan kepercayaan pada data primer dari sumber yang kredibel akan sangat membantu mempercepat penyaluran bansos tanpa mengorbankan akurasi. Keselamatan informasi dalam distribusi bansos memang krusial, namun ia harus diwujudkan melalui efisiensi dan smart verification, bukan dengan menumpuk lapisan verifikasi yang justru menghambat tujuan mulia itu sendiri.
