Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Mendidik atau Melukai? Kekerasan di Badan Sosialisasi Terus Menghantui

Kabar tentang insiden kekerasan di berbagai badan sosialisasi atau lembaga pembinaan kembali mencuat. Fenomena ini, yang sering kali berkedok ‘pembinaan’ atau ‘disiplin’, justru meninggalkan luka fisik dan psikis bagi para pesertanya. Baik itu perpeloncoan, pelecehan, maupun bentuk kekerasan lainnya, praktik ini terus berulang dan menjadi noda hitam dalam sistem pembinaan di Indonesia.

Ironisnya, lembaga-lembaga yang seharusnya membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme justru tercoreng oleh praktik-praktik brutal. Akar masalahnya sering kali kompleks, melibatkan tradisi usang, penyalahgunaan kekuasaan, kurangnya pengawasan efektif, serta pemahaman yang keliru tentang arti kedisiplinan. Lingkaran setan ini berpotensi melahirkan generasi yang juga percaya bahwa kekerasan adalah metode yang sah untuk membentuk orang lain.

Dampaknya tidak hanya pada korban yang menderita trauma jangka panjang dan bahkan risiko kematian, tetapi juga merusak citra lembaga dan kepercayaan publik. Ini adalah alarm keras bagi semua pihak.

Sudah saatnya semua pihak—pimpinan lembaga, penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat—bertindak tegas. Evaluasi menyeluruh, penegakan aturan yang ketat, sanksi tanpa pandang bulu, serta perubahan kurikulum pembinaan yang humanis adalah kunci. Mendidik adalah membangun, bukan menghancurkan. Kekerasan tak punya tempat dalam proses sosialisasi yang beradab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *