Paradoks Digital: Kemajuan Ekonomi Melesat, Kesenjangan Sosial Menganga
Era ekonomi digital menjanjikan efisiensi, inovasi, dan akses tak terbatas. Namun, di balik gemerlap kemajuan ini, tersembunyi sebuah paradoks: kesenjangan sosial justru semakin melebar, menciptakan jurang antara mereka yang terhubung dan yang tertinggal.
Teknologi digital memang telah membuka gerbang peluang baru. E-commerce memberdayakan UMKM, platform gig economy menciptakan fleksibilitas kerja, dan inovasi fintech memudahkan akses keuangan. Produktivitas meningkat, pasar menjadi global, dan informasi melimpah ruah. Kekayaan baru tercipta dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya, mendorong pertumbuhan ekonomi secara agregat.
Namun, manfaat ini belum merata. Jutaan orang masih kesulitan mengakses internet yang stabil atau tidak memiliki perangkat yang memadai, menciptakan ‘jurang digital’ yang memisahkan mereka dari peluang ekonomi baru. Selain itu, otomatisasi dan kecerdasan buatan menggantikan pekerjaan rutin, sementara pekerjaan baru membutuhkan keterampilan digital yang spesifik. Mereka yang tidak mampu beradaptasi atau mendapatkan pelatihan relevan berisiko terpinggirkan.
Kekayaan cenderung terkonsentrasi pada segelintir raksasa teknologi dan pekerja berkeahlian tinggi, sementara sebagian besar masyarakat terjebak dalam pekerjaan bergaji rendah atau tidak stabil di sektor gig economy tanpa jaminan sosial yang memadai. Ini memperparah ketimpangan pendapatan dan aset, di mana segelintir orang mengumpulkan kekayaan luar biasa, sementara mayoritas berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kesenjangan ini bukan sekadar masalah akses teknologi, melainkan refleksi dari ketidaksetaraan dalam pendidikan, kesempatan, dan perlindungan sosial. Untuk memastikan ekonomi digital benar-benar inklusif, diperlukan kebijakan yang proaktif: investasi dalam infrastruktur digital yang merata, program peningkatan keterampilan berkelanjutan, serta jaring pengaman sosial yang adaptif. Tanpa intervensi yang tepat, kemajuan digital akan menjadi pedang bermata dua, mempercepat pertumbuhan bagi sebagian kecil, namun memperdalam luka kesenjangan bagi sebagian besar.
