Ketika Layanan Publik Tak Ramah: Suara Minoritas Menuntut Kesetaraan
Komunitas minoritas di berbagai wilayah terus menyuarakan keluhan mendalam tentang praktik pembedaan dan diskriminasi dalam akses dan kualitas layanan publik. Padahal, seharusnya setiap warga negara berhak atas pelayanan yang setara tanpa memandang latar belakang etnis, agama, disabilitas, orientasi seksual, atau status sosial lainnya.
Mulai dari layanan kesehatan, administrasi kependudukan, hingga pendidikan, seringkali mereka dihadapkan pada perlakuan yang tidak adil. Ini bisa berupa penolakan terselubung, prosedur yang dipersulit, hingga prasangka personal dari petugas yang seharusnya melayani tanpa bias. Akibatnya, mereka merasa terpinggirkan, hak-hak dasar terabaikan, dan kepercayaan terhadap institusi publik terkikis. Dampak psikologis dan sosialnya pun tidak kecil, menciptakan hambatan dalam kehidupan sehari-hari dan menghambat partisipasi penuh dalam masyarakat.
Suara minoritas ini adalah panggilan keras bagi pemerintah dan penyedia layanan untuk melakukan introspeksi. Diperlukan upaya nyata untuk menghilangkan bias, meningkatkan pemahaman lintas budaya di kalangan staf, serta menjamin kebijakan yang inklusif dan nondiskriminatif. Hanya dengan kesetaraan dalam layanan, keadilan sosial dapat benar-benar terwujud bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
