Agresi Adat Pop Korea Ubah Pola Makan Anak muda

Invasi Rasa K-Pop: Menggeser Piring Adat, Mengubah Selera Remaja

Gelombang Hallyu, atau Korean Wave, telah melampaui musik dan fesyen. Dengan "agresi" budaya yang halus namun masif, K-Pop kini meresap jauh ke dalam sendi kehidupan penggemarnya, termasuk ranah kuliner. Fenomena ini secara signifikan mengubah pola makan anak muda, seringkali menggeser preferensi mereka dari hidangan tradisional ke sajian ala Korea.

Agresi Budaya di Meja Makan

Istilah "agresi" mungkin terdengar keras, namun menggambarkan betapa kuatnya daya tarik K-Pop dalam membentuk selera. Melalui drama, variety show, dan mukbang (siaran makan) para idol, makanan Korea seperti Tteokbokki, Ramyeon, Corndog, Kimchi Jiggae, hingga berbagai jenis street food disajikan dengan sangat menggoda. Visual yang menarik, ditambah karisma idola yang mengonsumsinya, menciptakan citra bahwa makanan-makanan tersebut tidak hanya lezat, tetapi juga "keren" dan modern.

Anak muda, yang cenderung adaptif dan ingin mengikuti tren, tanpa sadar menginternalisasi preferensi kuliner ini. Mereka mulai mencari, mencoba, dan bahkan menggemari makanan-makanan Korea, membanjiri kafe atau restoran Korea, atau mencoba membuatnya sendiri di rumah.

Pergeseran Pola Makan dan Implikasinya

Dampak paling kentara adalah pergeseran pola makan. Nasi dengan lauk pauk tradisional Indonesia yang kaya rempah dan gizi seimbang, perlahan mulai tergeser oleh hidangan instan seperti Ramyeon, jajanan serba gurih-pedas, atau makanan cepat saji ala Korea. Pergeseran ini bukan hanya tentang rasa, tetapi juga kebiasaan:

  1. Prioritas Baru: Makanan Korea menjadi pilihan utama saat makan di luar atau mencari camilan.
  2. Kurang Seimbang: Banyak makanan Korea yang populer di kalangan remaja cenderung tinggi karbohidrat olahan, sodium, dan gula, serta kurang serat dan protein dibandingkan makanan tradisional Indonesia yang lebih variatif.
  3. Hilangnya Koneksi Budaya: Preferensi yang kuat terhadap makanan asing dapat mengurangi apresiasi terhadap warisan kuliner lokal yang kaya dan beragam.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kekuatan budaya pop dapat menjadi agen perubahan yang dahsyat, bahkan dalam aspek fundamental seperti pola makan. Penting bagi kita untuk tetap seimbang, menikmati keberagaman kuliner global, namun tak melupakan kekayaan dan nilai gizi dari hidangan tradisional yang telah lama menjadi bagian identitas bangsa.

Exit mobile version