Terjebak Sunyi: Ketika Alat Lokal Menggulung Karpet karena Minim Promosi
Indonesia kaya akan alat lokal dan kerajinan tangan yang mencerminkan kearifan dan kreativitas leluhur. Namun, banyak di antaranya kini terancam "gulung karpet"—istilah untuk gulung tikar atau bangkrut—bukan karena tidak relevan atau kualitas buruk, melainkan karena satu alasan krusial: minimnya promosi.
Tanpa promosi yang memadai, alat-alat berharga ini sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Mereka kalah bersaing dengan produk massal yang gencar diiklankan, meskipun kualitas, keunikan, dan nilai historisnya seringkali jauh lebih unggul. Akibatnya, permintaan menurun drastis, produksi terhenti, dan akhirnya, para pengrajin atau produsen lokal terpaksa menghentikan usahanya.
Lebih dari sekadar kehilangan produk, "gulung karpet" bagi alat lokal berarti hilangnya warisan budaya, keterampilan tradisional yang tak ternilai, dan potensi ekonomi lokal yang seharusnya bisa berkembang. Ini adalah sebuah tragedi yang terjadi dalam kesunyian, di mana inovasi dan kearifan lokal perlahan memudar tanpa pernah diketahui khalayak luas.
Untuk mencegah lebih banyak lagi alat lokal yang "menggulung karpet," promosi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pemanfaatan platform digital, kolaborasi antar komunitas, dan dukungan pemerintah dalam pemasaran menjadi kunci agar alat lokal dapat dikenal, dihargai, dan terus lestari di tengah gempuran modernisasi. Mari kita beri suara pada kekayaan lokal kita sebelum semuanya benar-benar sunyi.
