Terjebak Pesona Semu: Bahaya Gaya Diet Ekstrem di Media Sosial
Media sosial, medan magnet informasi, kini tak hanya jadi ajang berbagi momen, tapi juga kiblat tren, termasuk gaya hidup sehat. Namun, di balik gemerlapnya postingan "tubuh ideal" dan "diet instan", tersembunyi ancaman serius: gaya diet berlebihan yang disebarkan tanpa filter.
Algoritma media sosial gemar menyajikan konten yang memikat mata: transformasi drastis, menu diet super ketat, atau klaim "berat badan turun kilat" berkat suplemen tertentu. Para influencer atau bahkan individu biasa seringkali membagikan perjalanan diet mereka tanpa latar belakang ilmu gizi yang memadai, menciptakan ilusi bahwa metode ekstrem adalah jalan pintas terbaik menuju bentuk tubuh idaman.
Padahal, gaya diet yang terlalu ketat—seperti eliminasi total kelompok makanan tertentu, puasa ekstrem, atau pembatasan kalori berlebihan—dapat berujung pada malnutrisi, gangguan metabolisme, hingga masalah kesehatan mental seperti body image issue, kecemasan, bahkan pemicu gangguan makan (anorexia nervosa, bulimia, atau orthorexia). Tekanan untuk selalu terlihat ‘sempurna’ di layar juga memupuk rasa tidak puas diri dan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Kuncinya adalah literasi digital dan sikap kritis. Jangan mudah percaya pada klaim instan tanpa dasar ilmiah. Prioritaskan kesehatan holistik, bukan sekadar angka timbangan atau penampilan semata. Konsultasikan rencana diet dengan ahli gizi atau dokter untuk mendapatkan saran yang personal dan aman, sesuai kebutuhan tubuh Anda.
Media sosial memang bisa menjadi sumber inspirasi, namun ia juga menyimpan jebakan. Mari bijak memilih informasi, mengutamakan kesehatan jangka panjang, dan mencintai tubuh kita dengan cara yang seimbang dan bertanggung jawab, bukan karena desakan tren sesaat.
