Kejadian Burnout Berjangkit di Golongan Pekerja Belia

Wabah Kelelahan Senyap: Ketika Burnout Menjalar di Kalangan Pekerja Belia

Fenomena burnout bukan lagi sekadar kasus individual yang terisolasi, melainkan kini semakin menjalar di kalangan pekerja belia. Kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang ekstrem akibat stres kronis ini, bukan secara harfiah menular, melainkan menjadi sebuah tren dan budaya yang mengkhawatirkan, merenggut semangat para profesional muda.

Mengapa Mereka Rentan?
Pekerja belia, terutama Gen Z dan milenial awal, menghadapi tekanan yang unik. Tekanan performa tinggi, ekspektasi idealisme yang terkadang tidak realistis, serta gaya hidup "selalu terhubung" di era digital membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Ditambah lagi, budaya "hustle" yang mengagungkan kerja keras tanpa henti seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju sukses, membuat mereka sulit untuk beristirahat atau meminta bantuan.

Bagaimana Ia "Menjalar"?
Burnout ini "menular" melalui normalisasi dan perbandingan sosial. Melihat rekan kerja yang terus-menerus lembur dan tampak "produktif" tanpa henti bisa menciptakan tekanan untuk mengikuti, seolah kelelahan adalah lambang dedikasi. Media sosial yang menampilkan citra kesuksesan tanpa batas juga memperparah, memicu perbandingan dan rasa kurang. Lingkungan kerja yang tidak mendukung kesehatan mental dan kurangnya diskusi terbuka tentang stres bisa menjadi inkubator bagi penyebaran "wabah" kelelahan ini.

Dampak dan Solusi Mendesak
Dampak burnout pada pekerja belia sangat serius: penurunan produktivitas, demotivasi, gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, hingga turnover karyawan yang tinggi. Ini bukan hanya kerugian bagi individu, tetapi juga bagi organisasi dan ekonomi secara keseluruhan.

Mengatasi wabah ini memerlukan upaya kolektif:

  1. Individu: Belajar mengenali batas diri, berani mengatakan ‘tidak’, dan memprioritaskan istirahat serta aktivitas yang mengisi ulang energi.
  2. Organisasi: Menciptakan budaya kerja yang sehat, menyediakan dukungan kesehatan mental, mendorong work-life balance yang realistis, dan melatih pemimpin untuk peka terhadap tanda-tanda burnout.
  3. Masyarakat: Menggeser narasi dari mengagungkan kelelahan menjadi menghargai keberlanjutan dan kesejahteraan dalam bekerja.

Saatnya kita berhenti mengagungkan kelelahan dan mulai membangun lingkungan kerja yang berkelanjutan, agar potensi pekerja belia dapat berkembang optimal tanpa harus ‘terbakar habis’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *