Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Lingkaran Kelam Terulang: Ketika ‘Sosialisasi’ Berujung Luka

Kabar duka atau miris kembali menyelimuti, fenomena kekerasan yang bersembunyi di balik tabir kegiatan sosialisasi atau inisiasi kembali mencuat. Seharusnya menjadi ajang pengenalan, adaptasi, dan pembentukan ikatan positif, ‘sosialisasi’ justru seringkali tercoreng oleh tindakan fisik maupun mental yang merugikan.

Ironi ini terus berulang. Kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun verbal, diduga kuat berakar pada pemahaman keliru tentang ‘tradisi’, ‘kedisiplinan’, atau ‘penempaan mental’. Oknum senior atau pihak penyelenggara seringkali menggunakan dalih untuk membentuk karakter atau menguji ketahanan, padahal yang tercipta adalah trauma dan kebencian.

Dampak dari kekerasan semacam ini tidak main-main. Mulai dari luka fisik, cedera serius, hingga trauma psikologis jangka panjang yang sulit disembuhkan. Korban kehilangan kepercayaan, institusi tercoreng reputasinya, dan siklus kekerasan berpotensi terus berlanjut ke generasi berikutnya. Sebuah ‘pengenalan’ yang seharusnya membuka pintu, justru menutupnya dengan ketakutan.

Sudah saatnya kita semua, baik institusi, orang tua, maupun masyarakat, bersikap tegas. Diperlukan pengawasan ketat, sanksi yang adil dan transparan bagi pelaku, serta edukasi berkelanjutan tentang batasan etika dalam setiap kegiatan. Mengubah mentalitas bahwa kekerasan adalah bagian tak terpisahkan dari ‘pembentukan’ adalah kunci. Sosialisasi haruslah membangun, bukan meruntuhkan. Mari putuskan lingkaran kelam ini agar ‘pengenalan’ benar-benar menjadi awal yang baik, bukan akhir dari potensi seseorang.

Exit mobile version