Keterbatasan Sarana Disabilitas di Fasilitas Biasa Dikeluhkan

Bukan Sekadar Ramp: Jeritan Aksesibilitas Disabilitas di Fasilitas Umum

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, janji inklusivitas seringkali terbentur realita pahit bagi penyandang disabilitas. Fasilitas umum yang seharusnya melayani semua, nyatanya masih menjadi labirin hambatan. Keluhan akan keterbatasan sarana bukan lagi bisikan, melainkan jeritan yang menuntut perhatian serius.

Dari pusat perbelanjaan hingga kantor pemerintahan, dari restoran hingga transportasi publik, banyak penyandang disabilitas kerap menemukan diri mereka "terjebak". Toilet yang tidak ramah kursi roda, pintu masuk yang terlalu sempit, tidak adanya lift atau ramp yang memadai, hingga minimnya informasi dalam format yang bisa diakses (misalnya braille atau audio) adalah potret umum. Akibatnya, mereka kesulitan untuk bekerja, berinteraksi sosial, bahkan sekadar menikmati hiburan. Ini bukan hanya masalah fisik, melainkan penolakan atas hak dasar mereka untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

Keluhan ini bukan sekadar permintaan akan "fasilitas khusus", melainkan tuntutan akan desain universal yang memikirkan keberagaman manusia sejak awal. Sudah saatnya regulasi yang ada ditegakkan secara konsisten, diiringi dengan peningkatan kesadaran dan pelatihan bagi para pengelola fasilitas. Investasi dalam aksesibilitas adalah investasi pada kemanusiaan dan potensi yang tak terbatas dari setiap individu, bukan beban tambahan.

Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang mampu merangkul semua anggotanya. Mengatasi keterbatasan sarana disabilitas di fasilitas umum bukan hanya tugas pemerintah atau segelintir aktivis, melainkan tanggung jawab kolektif. Mari wujudkan ruang publik yang benar-benar terbuka untuk semua, bukan hanya sebagian.

Exit mobile version