Jeratan Utang Tengkulak: Panen Pahit Petani Kian Tercekik
Petani, pahlawan pangan negeri, kini banyak yang terjebak dalam lingkaran setan utang dan ketergantungan pada tengkulak. Fenomena ini kian mengkhawatirkan, mengancam kesejahteraan dan masa depan mereka.
Mengapa Terjebak?
Kebutuhan modal untuk menanam, biaya hidup mendesak, atau kegagalan panen yang tak terduga seringkali memaksa petani mencari pinjaman cepat. Akses yang rumit dan persyaratan berat dari lembaga keuangan formal membuat tengkulak, dengan tawaran "kemudahan" dan kecepatan, menjadi pilihan utama.
Siklus Ketergantungan Pahit
Namun, kemudahan itu datang dengan harga yang mahal. Tengkulak umumnya menawarkan pinjaman dengan bunga yang mencekik dan menetapkan harga jual hasil panen petani jauh di bawah pasar. Petani terpaksa menerima karena tidak punya pilihan lain. Akibatnya, utang tidak pernah lunas sepenuhnya, bahkan terus bertambah setiap musim tanam. Mereka harus kembali meminjam untuk musim berikutnya, menciptakan siklus ketergantungan yang sulit diputus, bahkan seringkali berujung pada hilangnya lahan garapan.
Dampak yang Meluas
Ketergantungan ini bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga merenggut martabat dan harapan petani. Mereka kehilangan daya tawar, tertekan secara mental, dan sulit untuk bangkit. Situasi ini menuntut intervensi serius melalui penyediaan akses modal yang adil, pendampingan, serta pembangunan sistem pasar yang transparan agar petani dapat menikmati hasil jerih payah mereka dan terbebas dari jeratan yang mencekik.
