Pencemaran Vokal Suaradi Kota Besar Candit Gangguan Kesehatan Psikologis

Vokal Kota: Racun Tak Kasat Mata Bagi Jiwa Metropolitan

Kota besar identik dengan hiruk pikuk. Namun, di balik gemuruh lalu lintas, terselip ancaman lain yang kerap terabaikan: pencemaran vokal. Bukan sekadar kebisingan biasa, melainkan paparan suara manusia yang berlebihan dan tak terkontrol, yang perlahan mengikis ketenangan batin.

Pencemaran vokal mencakup spektrum luas: mulai dari teriakan pedagang kaki lima yang tak henti, percakapan telepon yang terlalu lantang di ruang publik, pengeras suara acara keagamaan atau hiburan yang membahana, hingga deru obrolan di kafe-kafe padat. Dalam kepadatan kota, ruang personal akustik kian menipis, membuat suara-suara ini terasa invasif dan sulit dihindari.

Dampak pencemaran vokal ini jauh melampaui rasa tidak nyaman sesaat. Secara psikologis, paparan konstan dapat memicu stres kronis, kecemasan, gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, hingga meningkatkan iritabilitas dan agresi. Kemampuan kognitif menurun, produktivitas terganggu, dan dalam jangka panjang, berpotensi memicu depresi atau memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada. Ketenangan batin menjadi barang mewah yang sulit didapat, digantikan oleh rasa tertekan dan kelelahan mental yang akumulatif.

Maka, sudah saatnya kita menyadari ‘racun’ tak kasat mata ini. Kesadaran diri untuk mengelola volume suara kita, serta perencanaan kota yang lebih peka terhadap akustik, adalah langkah awal untuk mengembalikan hening yang berharga bagi jiwa metropolitan.

Exit mobile version