Pergerakan Disabilitas Sedang Terhalang di Banyak Kota

Akses Terbatas, Inklusi Tertunda: Pergerakan Disabilitas di Tengah Kota yang Menghadang

Pergerakan disabilitas global telah lama menyuarakan hak-hak mereka untuk kesetaraan dan aksesibilitas. Namun, di banyak kota di dunia, termasuk di Indonesia, laju perubahan menuju inklusi masih terasa lambat, bahkan terhambat. Individu disabilitas seringkali masih menghadapi tembok penghalang nyata, menghambat terwujudnya kota yang inklusif.

Hambatan utama tak lain adalah infrastruktur yang belum ramah. Trotoar tanpa ramp, transportasi publik yang tidak aksesibel, gedung-gedung dengan tangga curam tanpa lift, serta minimnya informasi dalam format alternatif adalah pemandangan umum. Bahkan, akses digital pun seringkali belum mempertimbangkan kebutuhan disabilitas. Di samping itu, stigma dan kurangnya kesadaran publik juga menjadi ‘tembok tak terlihat’ yang menghalangi partisipasi penuh.

Akibatnya, individu disabilitas kesulitan untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan, pekerjaan, sosial, dan ekonomi. Mereka terisolasi, hak-hak dasar mereka untuk bergerak bebas dan mandiri sering terabaikan, dan potensi mereka tidak dapat berkembang optimal demi kemajuan kota itu sendiri.

Meskipun regulasi dan komitmen telah ada di banyak tempat, implementasinya masih tertatih-tatih. Dibutuhkan komitmen politik yang kuat, alokasi anggaran yang memadai, penegakan hukum yang tegas, serta partisipasi aktif penyandang disabilitas dalam setiap perencanaan kota. Peningkatan kesadaran masyarakat juga krusial agar inklusi menjadi budaya, bukan sekadar kewajiban.

Pergerakan disabilitas bukan hanya tentang hak individu, melainkan cerminan kualitas sebuah peradaban. Sudah saatnya kota-kota kita benar-benar membuka diri, meruntuhkan tembok-tembok penghalang, dan membangun masa depan yang benar-benar inklusif bagi semua.

Exit mobile version