Publik Dusun tereleminasi sebab Cetak biru Darmawisata Elit

Ketika Dusun Tersingkir: Harga Sosial di Balik Gemerlap Wisata Elit

Pariwisata elit sering digadang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, menjanjikan devisa dan citra modern. Namun, di balik megahnya resor dan janji kemewahan, tersimpan kisah pilu tentang ‘publik dusun’ yang terpaksa tersingkir. Mereka tereleminasi, bukan karena kegagalan, melainkan karena tak masuk dalam "visi" cetak biru darmawisata elit.

Cetak biru yang dirancang untuk menarik wisatawan berdaya beli tinggi, seringkali mengabaikan realitas sosial dan ekologis di tingkat akar rumput. Lahan-lahan produktif milik warga, akses ke sumber daya alam, dan bahkan situs-situs budaya lokal, mendadak berubah status menjadi ‘area pengembangan’ atau ‘zona eksklusif’. Masyarakat lokal, yang telah bergenerasi hidup harmonis dengan lingkungannya, justru menjadi pihak yang paling dirugikan.

Proses eliminasi ini bisa berbentuk penggusuran langsung, hilangnya mata pencarian tradisional seperti pertanian atau perikanan, hingga terkikisnya identitas budaya. Dusun-dusun yang dulunya hidup dengan kearifan lokal, kini hanya menjadi bayangan, atau bahkan lenyap sama sekali, digantikan oleh infrastruktur pariwisata yang asing dan tidak inklusif. Mereka menjadi penonton di tanah sendiri, atau terpaksa beralih profesi menjadi buruh upahan di sektor pariwisata yang serba tak pasti.

Kisah publik dusun yang tersingkir ini adalah pengingat pahit bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan dan keberlanjutan. Sudah saatnya cetak biru pariwisata dirancang ulang, bukan hanya demi keuntungan elit, tetapi juga demi kesejahteraan, martabat, dan kelestarian hidup masyarakat lokal yang sesungguhnya adalah jiwa dari setiap destinasi.

Exit mobile version