Zonasi Pendidikan: Menguji Keadilan, Memicu Protes
Sistem zonasi pendidikan, yang digagas dengan niat mulia pemerataan akses dan mengurangi kesenjangan, tak jarang justru menjadi titik didih protes masyarakat. Setiap tahun ajaran baru, sistem ini memicu gelombang kekecewaan dan pertanyaan besar tentang keadilan.
Inti keluhan terletak pada ketidaksesuaian antara idealisme zonasi dengan realitas di lapangan. Banyak orang tua merasa dirugikan karena anak mereka, meskipun secara jarak dekat, justru tidak dapat masuk ke sekolah yang dianggap berkualitas atau favorit. Disparitas kualitas antar sekolah yang masih kentara menjadi pemicu utama; orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya.
Selain itu, isu manipulasi data kependudukan atau "kartu keluarga siluman" turut memperkeruh suasana, menimbulkan kecurigaan dan rasa ketidakadilan. Akibatnya, suasana pendaftaran seringkali diwarnai frustrasi orang tua, bahkan aksi demonstrasi, yang berdampak pada psikologis siswa dan kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan.
Protes ini sejatinya adalah cerminan dari harapan masyarakat akan sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas merata. Maka, evaluasi menyeluruh, perbaikan mekanisme, serta upaya serius untuk meningkatkan kualitas semua sekolah menjadi krusial. Sehingga tujuan mulia zonasi, yaitu pemerataan pendidikan berkualitas, benar-benar dapat terwujud tanpa harus mengorbankan rasa keadilan.
