Berita  

Stunting di Indonesia Sedang Tinggi: Sasaran 2025 Rawan

Stunting di Indonesia: Alarm Merah Masa Depan dan Bayangan Gagal Target 2025

Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang membayangi masa depan generasinya: stunting. Angka prevalensi stunting di negeri ini masih tergolong tinggi, menempatkan target ambisius pemerintah untuk menurunkannya menjadi 14% pada tahun 2025 dalam posisi yang sangat rawan dan berpotensi gagal jika tidak ada percepatan upaya yang signifikan.

Apa Itu Stunting dan Mengapa Berbahaya?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Dampaknya bukan sekadar fisik (tinggi badan di bawah rata-rata), tetapi juga permanen pada perkembangan otak, menurunkan kemampuan kognitif, produktivitas di masa dewasa, serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Ini adalah investasi buruk bagi sumber daya manusia bangsa.

Target 2025 Terancam
Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program dan intervensi, data terkini masih menunjukkan angka stunting yang jauh dari target 14%. Progres penurunan yang ada belum secepat yang diharapkan. Faktor-faktor seperti kurangnya edukasi gizi, akses sanitasi dan air bersih yang belum merata, pola asuh yang kurang tepat, serta ketahanan pangan keluarga masih menjadi penghalang utama. Ketidakmerataan intervensi dan pemahaman masyarakat menjadi batu sandungan terbesar.

Konsekuensi Gagalnya Target
Target 14% pada 2025 bukan sekadar angka, melainkan cerminan komitmen untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Kegagalan mencapai target ini berarti Indonesia akan terus dihantui oleh potensi kerugian ekonomi dan sosial yang besar. Jutaan anak tidak dapat mencapai potensi maksimalnya, yang pada gilirannya akan memperlambat laju pembangunan nasional dan melemahkan daya saing Indonesia di kancah global.

Perlunya Aksi Cepat dan Terpadu
Mengejar target 2025 adalah perlombaan melawan waktu. Diperlukan akselerasi program dan kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat, melibatkan pemerintah, swasta, masyarakat, dan keluarga secara masif. Intervensi gizi spesifik (suplementasi, imunisasi) dan sensitif (sanitasi, air bersih, edukasi, ketahanan pangan) harus diintensifkan sejak dini. Edukasi masif mengenai 1.000 HPK dan pentingnya gizi seimbang adalah kunci untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

Dengan komitmen kuat dan tindakan nyata dari semua pihak, harapan untuk mewujudkan Indonesia yang bebas stunting dan mencapai target 2025 masih ada, demi lahirnya SDM unggul yang berdaya saing global. Alarm merah ini harus menjadi pemicu untuk bergerak lebih cepat dan efektif.

Exit mobile version