Tanah Pertanian Beralih Jadi Area Pabrik Orang tani terpaksa

Dari Sawah ke Cerobong Asap: Dilema Petani di Tengah Gelombang Industri

Fenomena konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri kian marak di berbagai wilayah. Lahan hijau yang tadinya subur, kini berganti rupa menjadi deretan pabrik dan gudang. Di balik geliat ekonomi dan janji investasi, tersimpan kisah getir para petani yang seringkali terpaksa melepas tanah warisan mereka.

Petani dihadapkan pada pilihan sulit. Tawaran harga tanah yang menggiurkan dari pengembang, tekanan ekonomi, serta minimnya akses terhadap modal atau teknologi pertanian modern, kerap menjadi pemicu utama. Bagi sebagian, menjual tanah adalah satu-satunya jalan keluar dari lilitan utang atau kemiskinan, meskipun itu berarti melepaskan mata pencarian turun-temurun. Janji lapangan kerja baru di pabrik pun seringkali tak seindah bayangan, dengan persaingan ketat dan upah yang belum tentu mencukupi untuk kelangsungan hidup.

Pergeseran ini membawa dampak multidimensional. Petani kehilangan identitas dan sumber penghidupan, berpotensi memicu masalah sosial dan kemiskinan baru. Ketahanan pangan lokal terancam seiring menyusutnya lahan produktif. Dampak lingkungan seperti polusi udara dan air juga menjadi ancaman serius bagi masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, pembangunan industri harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan petani. Kebijakan tata ruang yang berkelanjutan, insentif bagi petani, serta pemberdayaan ekonomi lokal menjadi kunci agar "paksaan" ini tidak lagi menjadi narasi utama dalam pembangunan negeri. Keseimbangan antara kemajuan industri dan keberlanjutan pertanian adalah sebuah keharusan.

Exit mobile version