Tanah Pertanian Beralih Jadi Area Pabrik Orang tani terpaksa

Dari Hijau ke Abu-abu: Nasib Tanah Pertanian dan Petani yang Tergusur Industri

Hamparan hijau sawah yang subur, perlahan berganti beton dan cerobong asap pabrik. Fenomena alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri adalah realitas pahit yang kian marak di Indonesia. Di balik gemerlap pembangunan dan janji investasi, tersimpan kisah getir para petani yang "terpaksa" kehilangan tumpuan hidup mereka.

Dorongan ekonomi sering menjadi pemicu utama. Tawaran harga tanah yang menggiurkan, ditambah dengan tekanan kebutuhan hidup atau minimnya akses permodalan untuk pertanian, seringkali membuat petani berada dalam posisi dilematis. Meski terasa menguntungkan sesaat, keputusan menjual lahan ini seringkali bukan pilihan mutlak, melainkan hasil dari negosiasi yang tidak seimbang atau bahkan tekanan sosial-ekonomi yang sulit dihindari.

Konsekuensi bagi petani sangatlah besar. Mereka kehilangan mata pencarian utama, identitas sebagai penggarap tanah, serta warisan budaya turun-temurun. Sebagian besar tidak memiliki keterampilan yang relevan untuk bekerja di pabrik, menyebabkan mereka terpinggirkan atau terpaksa beralih profesi serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Secara lebih luas, alih fungsi lahan ini mengancam ketahanan pangan nasional dan keseimbangan ekosistem.

Alih fungsi lahan pertanian menjadi pabrik adalah cerminan dari konflik antara kebutuhan industrialisasi dan keberlanjutan sektor pertanian. Penting untuk menemukan titik temu pembangunan yang tidak mengorbankan kesejahteraan petani dan kelestarian lahan subur. Kebijakan yang lebih berpihak pada perlindungan lahan pertanian dan pemberdayaan petani mutlak diperlukan agar "hijau" tidak sepenuhnya tergantikan oleh "abu-abu" pembangunan.

Exit mobile version