Berita  

Tugas alat sosial dalam membuat pandangan khalayak serta kerakyatan

Membentuk Pikiran, Merajut Bangsa: Daya Ungkit Alat Sosial

Di era digital ini, media sosial bukan lagi sekadar platform interaksi pribadi. Ia telah menjelma menjadi kekuatan dominan yang membentuk pandangan khalayak dan memengaruhi lanskap kerakyatan. Sebagai "alat sosial", platform ini memiliki kemampuan luar biasa untuk menyebarkan informasi dengan kecepatan kilat, menjangkau jutaan mata dan telinga dalam hitungan detik.

Algoritma personalisasi mengkurasi konten, seringkali memperkuat keyakinan yang sudah ada (echo chambers), atau sebaliknya, memperkenalkan perspektif baru. Ini menciptakan lanskap opini yang sangat dinamis, di mana narasi bisa dengan cepat menjadi viral, membentuk persepsi kolektif tentang isu-isu penting. Pandangan khalayak, baik yang tercerahkan maupun yang bias, kini sangat bergantung pada arus informasi dan interaksi di ruang digital ini.

Dampak terhadap ‘kerakyatan’ (citizenship/democracy) adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial memberdayakan warga dengan memberi mereka platform untuk menyuarakan aspirasi, mengorganisir gerakan sosial, dan menuntut akuntabilitas dari pembuat kebijakan. Ini meningkatkan partisipasi dan transparansi. Namun, di sisi lain, ia juga rentan terhadap penyebaran disinformasi, polarisasi ekstrem, dan manipulasi opini oleh aktor-aktor tertentu. Debat publik bisa menjadi dangkal, didominasi oleh emosi daripada fakta, mengancam fondasi dialog demokratis yang sehat.

Singkatnya, alat sosial adalah kekuatan transformatif yang tak terbantahkan. Ia memiliki potensi besar untuk mencerahkan dan memberdayakan, sekaligus berisiko merusak kohesi sosial dan integritas demokrasi. Tanggung jawab kini ada pada setiap individu dan pembuat kebijakan untuk menggunakannya secara bijak, dengan literasi digital dan pemikiran kritis sebagai tameng utama dalam membentuk pandangan yang matang dan kerakyatan yang kokoh.

Exit mobile version