Pilar Keluarga Tanpa Penyangga: Kisah Perjuangan Wanita Kepala Keluarga
Wanita kepala keluarga (WKK) adalah pilar utama yang memikul beban ganda: sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh dan pengelola rumah tangga. Mereka adalah figur tangguh yang berjuang demi kelangsungan hidup anak-anak dan keluarganya. Namun, di balik kekuatan luar biasa ini, tersimpan perjuangan berat yang seringkali harus mereka lalui dengan minimnya dukungan.
Beban ekonomi menjadi yang terdepan. Mereka harus berjuang memastikan dapur tetap mengebul, mencari pekerjaan yang seringkali tidak stabil atau bergaji rendah, sambil menghadapi stigma sosial, keterbatasan akses pekerjaan layak, hingga tekanan psikologis akibat tanggung jawab yang tak berkesudahan. Waktu dan energi terkuras habis, seringkali tanpa ada ruang untuk diri sendiri atau sekadar istirahat yang layak.
Minimnya dukungan terasa dari berbagai lini. Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya inklusif, kurangnya akses terhadap modal usaha, pelatihan keterampilan, atau bahkan sekadar jaringan sosial yang suportif. Seringkali, pengorbanan mereka dianggap biasa, tanpa apresiasi yang layak dari lingkungan sekitar maupun keluarga besar. Dukungan kesehatan mental pun kerap terabaikan, padahal mereka adalah kelompok yang rentan stres dan kelelahan. Mereka berjuang dalam kesunyian, sendirian menghadapi badai.
Meski demikian, resiliensi para wanita kepala keluarga tak pernah padam. Mereka terus berupaya, berinovasi, dan mencari jalan keluar demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Sudah saatnya kita, sebagai masyarakat dan pemangku kebijakan, melihat lebih dekat dan memberikan dukungan konkret. Mulai dari program pemberdayaan ekonomi yang tepat sasaran, akses kesehatan yang mudah, hingga menciptakan lingkungan sosial yang empatik dan tanpa stigma.
Mereka bukan hanya berjuang untuk diri sendiri, tetapi juga demi masa depan generasi penerus. Mari menjadi penyangga bagi pilar-pilar tangguh ini, agar perjuangan mereka tidak lagi terasa sunyi dan sepi.
