Wanita Kepala Keluarga Berjuang di Tengah Sedikitnya Support

Pilar Tanpa Penopang: Perjuangan Sunyi Wanita Kepala Keluarga

Di balik hiruk pikuk kehidupan, berdiri tegak sosok wanita kepala keluarga. Mereka adalah nakhoda bagi bahtera rumah tangga, pengambil keputusan, sekaligus tulang punggung finansial. Namun, di balik ketegaran itu, tersembunyi perjuangan sunyi yang kerap luput dari perhatian, terutama minimnya dukungan yang mereka terima.

Tugas mereka ganda, bahkan triple. Dari mencari nafkah, mendidik anak, mengurus rumah, hingga menjadi tempat curhat. Beban finansial seringkali jadi yang paling utama. Gaji pas-pasan, pekerjaan serabutan, semua demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anak bisa sekolah. Tak jarang, mereka juga menghadapi stigma sosial atau pandangan meremehkan, menambah berat beban emosional yang sudah ada.

Minimnya dukungan ini bukan sekadar soal uang. Ini tentang ketiadaan akses pada pendidikan dan pelatihan yang layak, sulitnya mendapatkan fasilitas penitipan anak yang terjangkau, hingga absensi kebijakan yang berpihak. Masyarakat pun kadang kurang peka, tidak menawarkan uluran tangan atau sekadar empati. Akibatnya, kelelahan fisik dan mental sering menghantui. Mereka berjuang sendirian, terkadang tanpa tempat bersandar untuk berbagi keluh kesah.

Wanita kepala keluarga adalah potret ketangguhan sejati. Mereka adalah pilar yang tak tergantikan bagi keluarga dan masyarakat. Sudah saatnya kita, sebagai bagian dari masyarakat dan pemerintah, memberikan pengakuan, dukungan, dan fasilitas yang memadai. Bukan hanya uluran tangan saat mereka jatuh, tapi sistem yang menopang agar mereka bisa berdiri tegak dan berkarya tanpa beban yang terlalu berat. Mari hentikan perjuangan sunyi ini, dan jadikan mereka pilar yang kokoh, bukan pilar tanpa penopang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *