Berita  

Anggaran CSR Tidak Tembus pandang Penduduk Pertanyakan Perusahaan Tambang

Tabir Anggaran CSR Tambang: Warga Lokal Tagih Keterbukaan Penuh!

Di tengah gemuruh operasional pertambangan, satu isu krusial kembali mencuat di kalangan masyarakat sekitar: transparansi anggaran Corporate Social Responsibility (CSR). Penduduk lokal di berbagai wilayah menuntut jawaban jelas dari perusahaan tambang mengenai alokasi dan pemanfaatan dana CSR yang selama ini terkesan "tidak tembus pandang."

Kecurigaan muncul karena masyarakat merasa minimnya informasi detail tentang berapa dana CSR yang sebenarnya dialokasikan, untuk program apa saja, dan bagaimana dampak nyatanya di lapangan. Seringkali, ada jurang antara janji program dan realisasi yang dirasakan warga. Mereka mempertanyakan apakah dana tersebut benar-benar sampai kepada mereka dalam bentuk pembangunan berkelanjutan atau hanya terserap dalam proyek-proyek yang kurang relevan atau bahkan tidak terealisasi secara optimal.

Ketiadaan keterbukaan ini tidak hanya memicu pertanyaan, tetapi juga mengikis kepercayaan antara perusahaan dan komunitas. Masyarakat menginginkan partisipasi aktif dalam perencanaan program CSR, serta laporan keuangan yang rinci dan mudah diakses. Mereka menuntut pertanggungjawaban yang jelas, agar dana CSR dapat benar-benar menjadi katalisator kesejahteraan, bukan sumber konflik dan kecurigaan.

Transparansi anggaran CSR bukan sekadar tuntutan birokratis, melainkan fondasi bagi hubungan harmonis dan berkelanjutan antara perusahaan tambang dan masyarakat. Perusahaan dituntut untuk segera membuka diri, menyajikan data yang akuntabel, dan melibatkan warga dalam setiap tahapan, demi mencapai tujuan CSR yang sejati: pembangunan yang adil dan merata.

Exit mobile version