Banjir Urban: Momok Tahunan yang Kian Mencekik Kota
Setiap musim hujan tiba, kota-kota besar di Indonesia, bahkan dunia, seringkali dihadapkan pada pemandangan yang sama: genangan air yang melumpuhkan. Apa yang dulunya dianggap ‘rutinitas’ kini bermetamorfosis menjadi permasalahan parah yang mencekik denyut nadi perkotaan. Banjir tahunan bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan krisis multidimensional yang kian mengganas.
Penyebabnya kompleks: urbanisasi masif yang mengikis lahan hijau dan menggantinya dengan beton, sistem drainase yang tak mampu menampung debit air, tumpukan sampah yang menyumbat saluran, hingga perubahan iklim global yang memicu curah hujan ekstrem. Akibatnya, kota-kota kehilangan daya serap alaminya dan rentan terendam.
Dampak banjir tahunan ini bukan sekadar genangan sesaat. Kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah akibat kerusakan infrastruktur dan terhentinya aktivitas bisnis. Kesehatan masyarakat terancam oleh penyakit pascabanjir, dan gangguan sosial-psikologis tak terhindarkan bagi warga yang harus berulang kali mengungsi.
Mengatasi momok ini membutuhkan pendekatan holistik. Bukan hanya sekadar pengerukan sungai atau pembangunan tanggul, tetapi juga perencanaan kota berkelanjutan yang mengintegrasikan ruang terbuka hijau, sistem drainase cerdas, pengelolaan sampah terpadu, serta edukasi dan partisipasi aktif masyarakat. Penegakan regulasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim juga krusial.
Banjir tahunan di perkotaan bukan lagi takdir yang harus diterima, melainkan panggilan darurat untuk bertindak. Hanya dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, kota-kota kita bisa bernapas lega dan terbebas dari cekikan air yang menghantui setiap musim hujan.
