Berita  

Kejadian Burnout Berjangkit di Golongan Pekerja Belia

Api Lelah yang Menjalar: Wabah Burnout di Kalangan Pekerja Belia

Fenomena kelelahan ekstrem atau burnout bukan lagi isu individual, terutama di kalangan generasi pekerja belia. Apa yang dulunya dianggap sebagai masalah pribadi, kini mulai menjalar dan menjadi "wabah" yang mengancam produktivitas serta kesejahteraan mereka.

Mengapa Burnout Menjadi ‘Berjangkit’?
Pekerja belia menghadapi tekanan unik: ekspektasi tinggi dari diri sendiri dan atasan, budaya kerja yang menuntut ‘selalu terhubung’, serta tekanan perbandingan di media sosial. Lingkungan kerja yang kompetitif dan kurangnya batasan jelas antara hidup pribadi dan profesional semakin memperparuk keadaan. Ketika satu rekan kerja menunjukkan tanda-tanda burnout, seperti kelelahan kronis, sinisme, atau demotivasi, hal itu bisa menular. Observasi terhadap rekan yang bekerja berlebihan tanpa istirahat, atau lingkungan yang menormalisasi jam kerja panjang, dapat memicu perasaan serupa pada individu lain.

Dampak Menyeluruh
Dampaknya multifaset. Secara personal, burnout mengikis kesehatan fisik dan mental, menurunkan produktivitas, dan memadamkan semangat. Bagi organisasi, ini berarti tingkat turnover karyawan yang tinggi, lingkungan kerja yang toksik, dan inovasi yang mandek. Sebuah tim yang anggotanya mengalami burnout rentan terhadap kesalahan, komunikasi buruk, dan penurunan kualitas kerja secara keseluruhan.

Memadamkan Api Lelah
Mencegah "penularan" burnout memerlukan upaya kolektif. Individu perlu mengenali batasan diri, mempraktikkan self-care, dan berani mencari bantuan profesional. Perusahaan harus menciptakan budaya kerja yang mendukung keseimbangan hidup-kerja, memberikan dukungan kesehatan mental, serta menetapkan ekspektasi yang realistis. Para pemimpin juga berperan penting sebagai teladan dan pendengar aktif, mendorong komunikasi terbuka tanpa stigma.

Burnout pada pekerja belia adalah alarm. Sudah saatnya kita membangun lingkungan kerja yang tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga menghargai kesejahteraan pekerjanya. Hanya dengan begitu, kita bisa memadamkan api lelah ini sebelum menjalar lebih jauh.

Exit mobile version