Pergerakan Disabilitas Sedang Terhalang di Banyak Kota

Terhalang di Kota Sendiri: Pergerakan Disabilitas Masih Menanti Akses Penuh

Di tengah gemuruh pembangunan dan modernisasi perkotaan, satu kelompok masyarakat seringkali masih tertinggal dan terpinggirkan: penyandang disabilitas. Meskipun regulasi dan kesadaran publik mulai meningkat, realitas di banyak kota besar menunjukkan bahwa pergerakan mereka masih menjadi tantangan serius, bahkan terhalang.

Trotoar yang tidak rata, ketiadaan jalur landai (ramp) di fasilitas umum, minimnya akses lift atau eskalator yang berfungsi, hingga transportasi publik yang belum sepenuhnya inklusif, adalah pemandangan umum yang menghambat. Rintangan ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan penghalang fundamental bagi hak-hak dasar penyandang disabilitas untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan, pekerjaan, rekreasi, dan kehidupan sosial.

Akibatnya, banyak penyandang disabilitas "terjebak" dalam lingkungan yang tidak dirancang untuk mereka, membatasi potensi dan kemandirian. Mewujudkan kota yang inklusif bukan hanya tentang membangun infrastruktur fisik, tetapi juga melibatkan perubahan pola pikir dan kebijakan yang berkelanjutan. Diperlukan komitmen serius dari pemerintah, pengembang, dan masyarakat untuk memastikan setiap sudut kota ramah bagi semua, agar tidak ada lagi yang merasa terhalang di kota mereka sendiri.

Exit mobile version