Tabir Gelap Anggaran CSR Tambang: Warga Menuntut Keterbukaan Penuh
Di tengah masifnya operasi perusahaan tambang, program Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya menjadi jembatan manfaat bagi masyarakat sekitar. Namun, realitas di lapangan seringkali berkata lain. Anggaran CSR yang tidak transparan kini menjadi sorotan utama, memicu pertanyaan serius dari penduduk lokal.
Ketidakjelasan alokasi dana CSR menciptakan jurang ketidakpercayaan antara perusahaan dan masyarakat. Penduduk kesulitan melacak sejauh mana dana tersebut benar-benar dialokasikan untuk pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi, atau peningkatan kualitas hidup mereka. Ini menimbulkan dugaan bahwa program CSR hanya sekadar formalitas tanpa dampak signifikan, atau bahkan rentan terhadap penyalahgunaan.
Masyarakat menuntut lebih dari sekadar janji. Mereka menginginkan keterbukaan data mengenai jumlah anggaran, rincian program, serta laporan pertanggungjawaban yang akuntabel. Partisipasi aktif penduduk dalam perencanaan dan pengawasan program CSR juga menjadi kunci, memastikan bahwa inisiatif tersebut selaras dengan kebutuhan riil mereka, bukan hanya agenda perusahaan.
Transparansi anggaran CSR bukan hanya soal kepatuhan, melainkan fondasi bagi hubungan yang harmonis dan saling percaya. Dengan keterbukaan, perusahaan tambang dapat membangun legitimasi sosial, sementara masyarakat dapat merasakan manfaat nyata dari kehadiran investasi. Ini adalah langkah krusial menuju pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, di mana keuntungan ekonomi sejalan dengan kesejahteraan sosial dan lingkungan.
