Laut Asin, Nasib Pahit: Petani Garam Tercekik Impor
Di bawah terik matahari, para petani garam lokal berjibaku dengan ladang garam mereka, berharap panen yang melimpah dapat menopang hidup. Namun, harapan itu seringkali pupus di tengah jalan, bukan karena gagal panen, melainkan karena kesulitan penjualan yang akut. Biang keladinya tak lain adalah serbuan garam impor yang membanjiri pasar domestik.
Fenomena ini telah menciptakan dilema pahit. Harga garam lokal anjlok drastis, jauh di bawah biaya produksi, membuat petani merugi dan stok menumpuk tak terjual. Garam impor, yang terkadang dipandang lebih murah atau memiliki spesifikasi tertentu untuk industri, kerap menjadi pilihan utama bagi pembeli besar, menggerus pangsa pasar produk lokal.
Akibatnya, mata pencarian ribuan keluarga petani garam terancam. Mereka yang secara turun-temurun menggantungkan hidup dari butiran kristal putih ini kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan kerugian atau beralih profesi. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga krisis identitas dan keberlanjutan tradisi.
Untuk menjaga denyut nadi kehidupan petani garam lokal, diperlukan langkah konkret. Mulai dari penguatan standarisasi dan kualitas garam lokal agar mampu bersaing, edukasi pasar tentang keunggulan produk dalam negeri, hingga kebijakan pemerintah yang lebih tegas dan berpihak, seperti pengaturan kuota impor yang bijak dan pengawasan ketat. Memberikan ruang yang adil bagi petani lokal untuk bersaing di pasar sendiri adalah kunci agar laut asin tidak lagi berarti nasib pahit bagi mereka.
