Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Jerat Kekerasan dalam Lingkup Sosialisasi: Sebuah Ironi Berulang

Kabar tentang kekerasan yang kembali terjadi di berbagai badan sosialisasi, baik dalam konteks pendidikan, keorganisasian, maupun pelatihan, menjadi tamparan keras bagi tujuan mulia pembentukan karakter dan integrasi. Fenomena ini bukan hal baru, namun kehadirannya yang berulang kali menegaskan adanya masalah sistemik yang belum tertangani tuntas.

Tindakan kekerasan, mulai dari fisik, verbal, psikologis, hingga potensi pelecehan, seringkali menimpa anggota baru atau peserta yang seharusnya dibimbing, dilakukan oleh oknum senior atau pihak yang memiliki otoritas. Ironisnya, tindakan ini kerap dibungkus dalih ‘pendisiplinan’ atau ‘pembentukan mental’ yang justru merusak esensi sosialisasi itu sendiri. Sosialisasi seharusnya menjadi proses adaptasi, pembelajaran nilai-nilai positif, dan pembangunan komunitas yang suportif, bukan ajang penindasan atau demonstrasi kekuasaan yang salah kaprah.

Dampak yang ditimbulkan sangat serius: trauma fisik dan psikologis jangka panjang bagi korban, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga, serta rusaknya citra dan misi luhur sosialisasi itu sendiri. Lingkaran setan ini berpotensi melahirkan pelaku kekerasan baru di masa depan, karena menganggap kekerasan adalah cara yang "normal" untuk mendidik atau membimbing.

Sudah saatnya seluruh pihak, dari pengelola lembaga hingga pembuat kebijakan, mengambil langkah tegas. Penerapan sanksi yang adil, edukasi tentang metode pembimbingan yang humanis, serta pengawasan ketat adalah mutlak. Sosialisasi harus menjadi ruang aman dan inspiratif, bukan ladang subur bagi kekerasan.

Exit mobile version